SUBVERSIF

image

Sudi enggan berbakti
Ayah membawa hujan
Ibu menyajikan makanan menyesuai kebutuhan
Budi congkak dipunggung ibu
Menengadah menantang ayah
Durhaka

(2015)

Iklan

KATA SERAPAN DARI BAHASA ARAB

image

Sedang bersama-sama menyerap logat
Lughah maksudnya?
Sampai ke Kalbu.
Pakai Qof bukan pakai Kaf, memangnya Kamu Anjing?
Keparat!
Busyet, asal saja kau laknat orang Khurafat!?
Maaf keceplosan,
Lain kali hati-hati, Fardhu untuk mempelajari Nuskhahnya
Sebenarnya kami memang perlu Petuah
Saling menasehati gitu maksudnya?
Iya
Ah Ni’mat
pakai K, nikmat!
Kau pikir yang kami  ingin Siksa?
segera siapkan Askar!!!
(tunggu-tunggu yang itu pakai Q!)
Tetapi lawan bicaranya keburu lari terbirit-birit ketakutan
Mencari perlindungan Laskar
Akhirnya perang saudara pun kepalang.

(2016)

SETERU

image

Pada suatu hari…
Dua batu beradu. Memercik api
memberi bekas dibadan. Serupa lebam
Hanyut
Masing-masing bertemu, beradu dengan batu-batu
Menjadi dua lingkaran sekelompok batu beradu,
Memercik kerikikil-kerikil berapi
Menjadi gunung batu berapi
Menjadi dua lingkaran bergunung batu berapi
Beradu,
Entah lalu bagaimana jadinya Beradu
BeraduBeraduBeraduBeraduBeradu
BeraduBeraduBeraduBeraduBeradu
BeraduBeraduBeraduBeradBeradu
BeraduBeraduBeraduBeradBeradu
………………………………………………..
(2016)

AKU INGIN MENULIS, SEPASANG MATA YANG BERKELEBATAN, DAN RENCANA MENJEMPUT ROSA.

image

Catatan harian:
Minggu, 17 april 2002

Aku ingin menulis, tetapi aku bingung harus memulainya dari mana. Itu, sepasang mata berkelebatan seperti sepasang lampu mobil lalu-lalang pada malam hari. Ya, sekarang masih pukul satu siang, terik matahari fudul menguapkan konsentrasi dan tiga cangkir kopi tak kunjung juga mengembalikan inspirasi.

Tak ada satupun buku yang menarik perhatian, padahal cukup banyak judul mewakili berbagai kategori memenuhi lemari, barangkali salah satu dari buku-buku itu ada yang mewadahi suplemen untuk relaksasi, untuk reboisasi “hahahaha” Itu sepasang mata, mawar merah didalam bola mataku membuatku tersenyum. Ya, itu maksudku, cover buku berjudul The Rose itu teramat anggun. Aku ingat kapan dia menghadiahkan buku itu, tepat sebelum aku naik angkut dan pergi meninggalkannya. Saat itu sepasang mata yang biasanya pelangi berubah menjadi abu-abu. Aku kembali perduli. Ya, setelah belakangan ini acap kali merasa rindu pada gadis desa itu, Rosa namanya.

Dan Jakarta, ternyata banyak juga orang sunda disana, bahkan teman kongkow sewaktu tinggal didesa. Walau mereka  hanya sekedar kuli setidaknya secara personal terkenakan busana yang sedikit memiliki gengsi. Ketika warga desa bertanya “kerja dimana?”
mereka menjawab “di Jakarta” itukan “woww”. Itu sepasang mata berkelebatan, ada yang berwarna purple, orange,  kuning ke hijau muda, kuning keemasan, intinya rupa-rupa warna segar itu menyimbolkan cerita mereka tentang jakarta.

Entah mengapa belakangan ini macam-macam warna sepasang mata terbesit lagi dalam benakku, kali ini berkelebatannya sedikit membuatku lucu ditengah-tengah bacaan buku  yang selalu menarik perhatianku. Ya, The Rose itu. Tapi sebagaimana ku menerima kabar, kini Rosa telah dinikahi anak pak lurah, setahun yang lalu setelah setahun kepergianku. Kaget, tapi sudahlah, takdir saat ini mungkin memang harus begitu, kemudiankan tak ada yang tahu, siapa yang tahu nanti aku menemui Rosa yang ketika itu janda, lumayankan buat istri kedua.

***

Barangkali tiga atau empat halaman cukup untuk mengembalikan ide-ide yang kabur. Ya, aku ingin sekali menulis, tapi aku bingung harus memulainya dari mana. Semenjak dua tahun kembali menjadi warga Jakarta baru kali ini rasanya aku kesulitan menuangkan isi pikiran, biasanya begitu saja mengalir dari sela-sela selokan, gemerlap malam, huru-hara dan sebagainya. Itu sepasang mata, merah membara membakar sekitarnya, aku yang sedang duduk dikursi goyang bekas kakek merasakan panasnya, gerah! ingin ku colok kedua mata itu. Itu sepasang mata berkelebatan, merah menyala, bergerola, berkobar dan akhirnya meredamku untuk mencolok mata orang. Sejenak kelebatan ingatan membuatku kabur dari setiap baris tulisan buku The  Rose yang menyuguhkan mawar, kedua bola mataku kembali merah merona menelusuri setiap kata kekata dan tak terasa sudah habis dua puluh lembar, waktu asarpun tak kusadari telah bertandang.

***

“Sepasang mata adalah keajaiban, seperti terbuat dari kaca bening yang dapat bergerak-gerak kekanan dan kekiri, keatas dan kebawah mencerap apa saja yang dilihatnya, tersimpan dihati memberi warna pada mata itu sendiri. Sepasang mata diletakan pada tengkorak kepala yang dilubangi sepas mata seperti lampu pada kendaraan, berfungsi menunjukkan jalan dengan memanfaatkan cahaya, warna mata dan pantulan cahayanya akan menyesuai objek yang diasumsi dan kecermatan hati ketika menyaringnya, karena mata dan hati bertautan seperti keterhubungan antara hati dan indra yang lainnya.

Warna pelangi dimataku ini karena aku mensyukuri apapun yang aku lihat, dengan begitu aku dibuat ceria. Sepasang mata tidak ada dimall, sepasang mata bukan soalan berapa banyak uang. Setiap mata ada alis dan bulu mata yang memayungi, perawatan sekaligus aksesoris yang terkesan wajar-wajar saja hingga seringkali terabaikan, bertolak dengan penjagaanku pada warna pelanginya, bagaimanapun aku ini manusia biasa,  hati yang senantiasa berubah-ubah menanggapi objek yang sama, kadang-kadang menjadikan mataku menampilkan warna yang berbeda-beda. Sepasang mata berbeda dengan alat indra yang lain, sepasang mata tidak mendatangkan abtraksi jika digunakan sesuai batasnya. Itu berpuluh-puluh pasang mata, memperhatikanku! warnanya bermacam-macam, kebanyakan berwarna merah muda, aku suka tetapi Kau pasti menyangka mereka sedang jatuh cinta, belum tentu!.

Sepasang mata seringkali menampilkan warna yang sama untuk menunjukan suasana hati yang berbeda-beda. Seringkali manusia tertipu, tersanjung oleh ungu atau biru, terkelabui oleh hitam atau putih, padahal belum tentu. Ada baiknya kita mentafsirkan setiap warna dengan berprasangka baik karena bisa saja hanya dengan disebabkan sepasang mata gairah kita tumbang atau jiwa manusia kita melayang”

Ternyata lumayan panjang! ya,  beberapa paragraf diatas aku mengutipnya utuh dari buku The Rose, pada lembar yang diberi nomor tiga puluh satu sampai tiga puluh dua.

Siapa saja yang mencari buku The Rose takkan menemukannya ditoko buku manapun, dari percetakan buku manapun, Kenapa? Karena Buku ini tidak lebih dari penggandaan buku aslinya yang diberi sampul berbunga mawar merah. Sebuah catatan harian dan ditulis langsung oleh tangan. Ya, Rosa sendiri yang menulisnya, memfotocopi dan kemudian memberikannya padaku, sebagai kenang-kenangan katanya, supaya ketika di Jakarta aku mengetahui cerita-cerita yang tak sempat diperdengarkannya.

***

Awal tahun 2000, Rosa mengantarkanku sampai ke jembatan yang menghubungkan antara desa dan jalan raya, perpisahan antara aku dan Rosa disaksikan oleh lambaian dedaunan dan langit yang ranum. Aku ingat betul apa yang ia katakan terakhir kali “ingatlah, kamu pernah bilang ‘Aku mencintaimu dan akan kembali untuk menjemputku'”  tapi bagaimana lagi, perpisahan itu tidak dapat dielakkan. Ayah sudah memintaku untuk kembali ke Jakarta, sebab keadaan disana sudah kembali tenang dan mulai membaik.

Sebetulnya yang mendorongku untuk tinggal didesa bersama paman adalah tidak lebih dari permohonan orang tua. Mereka kawatir Aku yang sebagai mahasiswa terlibat kerusuhan susulan yang kapan saja mungkin terjadi, dan ternyata benar saja apa yang diramalan oleh mereka, tahun 1998 di tempat kelahiranku itu, terjadi lagi kerusuhan yang takkan pernah bisa dilupakan oleh hati dan ingatan para penyaksinya, tercatat dengan tinta merah dalam sejarah negri tercinta ini, Indonesia.

Di tahun 1997 aku memang berada ditengah-tengah gelora demonstrasi puluhan ribu Mahasiswa dan masyarakat, rumahku menjadi tempat perkumpulan teman-teman sejalan waktu itu. Ayah dan ibu tak pernah setuju, entah aku tidak tahu apa yang menghalangi mereka untuk meluluskan anaknya turut mempartisipasikan energi untuk negri ini. Ya mungkin saja karena mereka mendengar sebagian temanku-temanku hilang begitu saja dan entah kemana.

Setibanya di Jakarta, aku terluka. Itu, sepasang mata menatapku jingga, merah, biru, hijau, coklat dan lain-lainnya. Aku ingat betul sambutan untuk kakiku yang baru menginjak tanah lahirku untuk pertama kalinya lagi itu. Sepanjang jalan sepasang mata berkelebatan seperti mondar-mandirnya lampu kendaraan pada malam hari. Betapa asingnya Aku, tajamnya pandangan orang-orang membuat hatiku robek dan merasakan nyeri yang teramat. Untung didepan gang Aku bertemu kawan lama, matanya berwarna jingga. Setibanya dirumah Aku pun disambut mata Ayah yang merah, mata Ibu yang putih, mata Adik yang orange dan mata kakak yang hijau. Melihat mereka mataku menjadi pelangi dan melupakan warna sama mata-mata sebelumnya. Benar apa kata Rosa, kadang-kadang warna mata sama namun artinya berbeda, Aku harus mencoba mentafsirkannya dengan baik dalam berprasangka.

***

Bahkan sampai The Rose tamat aku baca, tak kunjung jua aku mendapat ide untuk dituliskan, pun yang sempat samar-samar sebelumnya kembali lenyap oleh sepasang mata yang tiba-tiba berkelebatan lagi dipikiran. Warna-warna mata orang-orang itu menyakiti, entah mengapa pula aku ingin menulis? dan mengapa pula aku harus bingung? mestinya dewasa ini aku sudah pandai mensolusikan situasi atau sekedar mentafsirkan soalan warna mata. Apa jangan-jangan ini hanya penipuan dari keganjilan yang terbawa oleh kelebatan mata? padahal The Rose sudah selesai, dan aku menemui Rosa teramat piawai menjelaskan mengenai soalan mata? atau mungkin aku harus segera kedesa, meminta maaf kepada Rosa dan mencari tahu atau menanyakannya lansung sebab mengapa ia mencolok matanya sendiri!?

***

Catatan harian:
Jum’at, 29 April 2002

Semoga suamimu cepat mati. Maafkan aku, aku tidak langsung menjemputmu waktu itu. Dua tahun habis aku gunakan untuk mengejar kuliah yang terlelapkan dan menabung agar dapat mempersuntingmu. Kabar tentang pernikahanmu membuat aku kehilangan gairah, aku kira kau yang berkhianat.

Bukan hanya kehilanganku, kau pun kehilangan anggota keluarga yang tinggal satu-satunya; Ayah yang sekaligus guru pembimbing hidupmu itu. Bagaimana sabarmu aku tak dapat membayangkan, warga bilang setiap hari kamu menitikan air mata dan termanggu seperti sedang menunggu seseorang, tak pernah ada pelangi lagi disana dan angin surga tak kunjung kamu cium adanya.

Lelaki tolol yang dulu mengganggu hubungan kita pun datang dan memanfaatkan kesempatan, warga bilang sejak saat itu kau tidak bahagia, wajahmu selalu murung menampakkan penderitaan yang amat berat, kau tersiksa.

Suamimu yang mewarisi jabatan bapaknya itu memanfaatkan kekuasaan untuk membuntingkan nafsu pribadi, bermain perempuan dan menindas warga agar bungkam seperti aku yang habis ditendang pendekar-pendekarnya ketika hendak mengunjungimu dirumah suamimu kemarin.

Aku harus kembali kedesa, memikirkan bagaimana caranya agar dapat melepaskanmu dari cengkraman lelaki itu. Itu sepasang mata dengan berbagai warna berkelebatan menghalangiku, ya aku mengerti mengapa kau mengkhianati apa yang kau sendiri tuliskan dalam buku The Rose. Itu karena kau bermaksud menjaga pelangi dihatimu walau kau harus kehilangan pelangi dimatamu.

***

Merah, kuning, biru, hijau, hitam, putih, coklat, jingga dan warna-warna sepasang mata yang lainnya cepat berganti menyesuai perubahan hati, sepasang mata satu sama lain saling menukarkan warna, atau mencemari sepasang mata yang lainnya. Pantas saja Rosa mencolok matanya sendiri, sebenarnya hal seperti itu mustahil bisa terjadi pada Rosa, namun sebagai mahkluk sosial untuk tidak terpengaruh atau sekedar tidak terganggu tentu bukanlah perkara gampang. Perlu seseorang untuk membimbing seperti yang pernah Ayah Rosa Lakukan.

Aku pikir aku harus menunda keinginanku untuk menulis, tetapi apa yang harus aku lakukan kini? Mencolok mataku sendiri seperti yang dilakukan Rosa kemudian kembali kedesa untuk menjemputnya ataukah sebaliknya? atau memikirkan cara bagaimana agar Rosa lepas dari cengkraman lelaki biadab itu, kemudian aku menikahi Rosa yang janda sebagai istri pertama. Aku akan menghadiahkan sepasang mataku kepadanya, dan kedua mataku dikepalanya akan menjadi pembimbing penglihatanku.

Bersama Rosa Aku akan menjalani hidup bahagia, takkan terganggu oleh kelebatan sepasang mata yang melalu-lalang kapan saja. Saat itu aku akan tenang menulis, menyusun sebuah buku untuk melengkapi buku Rosa yang akan aku beri judul “The Rose Dua”.

07052016

LEMBAYUNG HUJAN

image

*Di inspirasi oleh dua puisi— Menyiapkan Kesedihan dan Pulang Kerja—karya Arco Transep, penggagas puisi malam palembang yang baru saja menerbitkan buku kumpulan puisinya ‘PROTOKOL HUJAN’. Coba saja tengok disini: bukuindie.com/buku/sastra/protokol-hujan/
___

Seperti biasa, setiap hari lelaki paruh baya itu menyaksikan parade senja menjemput rembulan, ditempat dimana ia bekerja seakan senja memahami ramai yang kesepian, hatinya selalu lembayung. Matahari yang tak bisa melawan kodratnya menitipkan sedikit sinar untuk digunakan bulan sebagai pijar, menjadi cercahan asa yang barangkali dapat menghibur lara manusia-manusia yang melarut dalam kesedihan. Ia yang menyatu dengan senja akan paham betul tentang kenyataan ini, tentang pertemuan dan perpisahan persis seperti yang sempat lelaki itu katakan.

Ketika hari benar-benar beranjak malam akhirnya ia mengikuti ajakan pikiran untuk segera, dan langsung pulang “Ayah penat” ucap lelaki itu dalam hati. Sudah setahun lebih rutinitas kerjaan mengharuskan ia meninggalkan rumah dengan keadaan pintu dan jendela selalu terkunci, sebab dirumah tak ada yang menghuni selain Ia sendiri. Berpisah adalah sebagian akibat yang disebabkan oleh pertemuan, Ia yang tak bisa melawan kodratnya harus menyetujui keinginan sang istri, namun berat hati keberpisahan dengan putri semata wayang yang turut dibawa mantan istrinya itu belumlah dapat Ia ikhlaskan sepenuhnya.

“Mungkin karena Ayah adalah orang yang rumit, Ayah terkeram dalam puisi, mangsi dan petikan gitar selalu kuasa menggubahkan isi hati Ayah. Kelak, ketika Putri sudah besar, Putri akan mengerti balerina Ayah yang terekam dalam kubangan sepi yang nyatanya benar juga, hingga Putri akan merasa bangga memiliki Ayah yang kala itu mudah-mudahan saja masih berkesempatan melihat Putri yang dewasa. Tumbuhlah putriku, besarlah menjadi Putri yang membuat bangga Ayah juga Mama” Ujar lelaki itu pelan dihadapan foto putrinya yang dibingkai kayu berwarna coklat.

Sesampainya dirumah tadi ia langsung masuk kamar menghampiri foto yang sengaja dipajang disana. Perasaan rindu pada Putri semata wayangnya semakin bertalu, mantul-mantul seperti mainan yang dimainkan anaknya dulu, disitu! tepat dimana sekarang Ayahnya sedang memandangi foto gadis mungilnya yang cantik, yang manis dan satu-satunya. Dielusnya dengan lembut pipi Putri dalam foto, kemudian Ia merebahkan tubuhnya pada kasur yang posisinya memang menghadap  foto tersebut. Seketika, meluruh segala penat pada tubuhnya, seakan Putri ada dan menindih dadanya, terdengar hembus nafasnya yang sedang lelap, dengan mata yang terpejam tersimpul seutas senyum diwajahnya.

Sekarang Usia Putri menjelang empat tahun, semenjak dibawa ibunya kembali ke Jogja setahun yang lalu belum pernah lagi lelaki itu melihat Putri secara langsung, hanya menyaksikan pertumbuhannya melalui foto-foto yang diunggah ibunya dimedia sosial, semakin cantik, semakin manis dan yang terpenting selalu  baik-baik saja.

Tadi saat jam istirahat di tempat kerja Ia menghubungi Ibu Putri, menanyakan tentang kabarnya, Ia senang mendengar kabar Putri baik-baik saja. Obrolan itu berujung pada permintaan izin bahwa Ia akan berkunjung ke Jogja untuk bertemu Putri dua hari mendatang, mumpung dapat libur. Ibu Putri mengiyakan keinginan mantan suaminya itu dibalik telpon. Ia memahami kerinduan hati ayah Putri dan Ia merasa Putri pun memang sudah cukup waktu untuk mengenali wajah Ayahnya.

Keinginan untuk cepat bertemu membuat pikiran lelaki itu terganggu, ditempat kerja, dijalan pulang dan sekarang dipembaringan “duh, Put ayah ingin cepat melihat, ingin segera bercengkarama denganmu” ucapnya dalam hati. Ia angkatkan punggungnya menjadi bersandar pada tumpukan bantal, matanya tertuju kearah foto dalam bingkai yang tertempel pada dingding didepannya. Kerinduan yang terpaku pada bingkai kayu itu menghidupkan foto didalamnya, dengan sedikit lompatan kecil Putri keluar dari foto sambil tersenyum dan  jatuh dipangkuannya. Lelaki itu sangat girang, Ia peluk, Ia ciumi dan Ia angkatkan ke udara. Binar mata bahagia melihat putrinya yang celekitikan tertawa tiba-tiba padam, kedua tangan malaikat yang tiba-tiba datang dari belakang punggunya merenggut Putri, kemudian Ia ketakutan ketika melihat malaikat dengan mata yang keduanya nanar melintasi dan mengembalikan Putri kedalam foto.

“Sudahkah Ayah menjadi pemilik sepi yang baik?”  Tanyanya dalam hati. Kesedihan jahir dalam tatapan kedua matanya. Walau begitu bayangan Putri tidak merubah senyumnya, mungkin karena Putri masih terlalu kecil untuk mengerti hal seperti ini. Kesendirian lelaki itu menjadikannya harus selalu berbenah, membersihkan hati dan pikiran dari kesedihan-kesedihan yang tak bertuan, merapikan pakaian di ingatan yang kian hari warna dan motifnya semakin memudar. Membenarkan letak meja dan kursi yang terlempas dari waktu untuk menunggu suatu hari dimana putrinya akan bertamu.

“Duh Put, mungkin semilir angin yang datang dari puing-puing itu akan terus berhembus hingga beberapa tahun kedepan, memperlihatkan tubuh ayah sendiri. Berseri-seri menggendongmu seusai mandi. Mengganti popok dan menyiapkan susu ekstra untuk tengah malam nanti. Walau yang akan Ayah tanggung dalam setiap babak cerita adalah kata kekata dan nada kenada yang didawai melankolia, Ayah sudah menyulam kesiapannya dari sekarang, sebab Ayah tidak tahu harus bagaimana lagi Put! Ayah hanya memprediksikan semuanya dari tarian-tarian yang tak sengaja menjawab enigma hampa setahun belakangan ini”

“Duh Put, belum juga sampai di kotamu, masih esok lusa nanti padahal,  tetapi kesedihan dari perpisahan saat pulang sudah mengemas Ayah dari sekarang. Tak sabar rasanya, ingin segera disana, berjumpa dan kita bercengkrama. Atau ketika ayah pamitan nanti kita besama-sama saja kestasiun, naik kereta!”

“Ahahaha…. Ayah bercanda kok, Ayah tahu keinginan seperti itu hanya robekan berita dalam koran yang takkan Mama pedulikan. Mama pasti kawatir Ayah tak bisa merawatmu!”.

Walau tak terdengar, bahasa hati lelaki itu jujur terpancar dari kedua matanya yang sedari tadi memandangi foto anaknya, seolah-olah sedang bercerita.

***

Keesokan harinya setelah selesai siap-siap untuk meninggalkan tempat kerja, akhirnya balasan pesan yang dikirim lelaki itu pun tiba. Mungkin karena suatu kesibukan, mantan Istrinya baru sempat untuk membalas.

Pada saat jam istirahat tadi lelaki itu mengirimkan pesan yang isinya adalah niatan untuk memberi Putri sapaan,  sebelumnya memang tak pernah ia melakukan. Namun, ia berpikir sepertinya sebelum datang waktu pertemuan ada baiknya memberi Putri sebuah perkenalan.

“Iya, maaf baru balas. Sekarang lagi sama Putri nemenin main boneka”

setelahnya ia baca pesan dari mantan istrinya, sambil menyandarkan punggung pada sebatang tembok ia melakukan panggilan, berharap sedikit rindu akan terlepaskan, lumayan.

“Halloo” Sapa lelaki itu ketika mendapati panggilannya sudah ada yang menjawab
“Halloo” suara lucu Putri membalas dari sebrang sana
“Hallo Putri”
“Iya hallo…, ini siapa?” tanya polos gadis mungil itu
“Ini Ayah putri”
“Ayah?” suara gadis mungil itu menunjukan kebingungan
“Iya ini Ayah” ulang lelaki itu.
(“Mama ini ayah?”
“Iya, itu ayah”
“loh aneh mama, Ayah putri ada dua?…, Itu Ayah! yang nelpon juga Ayah?”
“Iya, Ayah putri ada dua” jawab Ibunya)

Dialog antara putri dan Ibunya dibalik telpon terdengar jelas ditelinga lelaki itu. Membuat matanya mendadak berkaca-berkaca, berlinang dan tak sanggup ia menahannya, hingga setiap matanya menjatuhkan setetes air mata dari telaga kesedihan yang ia sembunyikan. Walau berat, ia harus membenarkan keluguan yang diperdengarkan mulut putrinya.

“Iya Putri, Ayah putri ada dua” Tangkas lelaki itu sambil meyusut air matanya.
Untuk saat ini  Ia harus bersabar menunggu Putri besar; menjelaskan semuanya hingga kenyataan akan mendapat penerimaan yang sejujurnya tak terelakkan.

Matahari tenggelam, mendadak hujan turun menahan langkah lelaki itu untuk segera pulang. Didepan kantor dimana ia bekerja, hujan menghalangi seluruh pandangannya. Sangat deras, kerinduanya menari-nari disana. Hanya hujan, menambah pusara kesedihan yang sungguh ia tidak menginginkan.

Ke dalam hujan lelaki itu mempertanyakan kekhawatiran tentang soalan nanti, Saat Putrinya dewasa akankan ia senang membaca buku puisi saat turun hujan? mendapati ayahnya yang basah kuyup karena merindukannya!?

“Tetapi Ketika Putri  membuka sampul buku itu, Aku akan kedinginan. Saat mata Putri membacanya dengan hati-hati, seluruh tubuhku akan gemetaran. Saat tangan Putri meraba  kalimat yang membuat jantungnya berdegup, Aku akan sangat merinding dan bergidik. Akankah ketika itu aku lebih sanggup?”

“Kemudian Putri mengantuk dan terlelap saat buku belum selesai dibacanya. Ibunya yang cantik merapikan tangan Putri dan menyelimutinya. Lalu Aku turut tertata kembali dalam buku yang kembali mengisi rak. Mungkin esok harinya bahkan untuk waktu yang lama Putri akan melupakan buku itu hingga Ia tak pernah mengenali ayahnya sampai selesai. Ketika itu benarkah hujan takkan pernah reda? sementara Putri tidak memperdulikannya lagi karena saat itu Ibunya lebih sering membacakan dongeng pengantar tidur untuknya?!”

Ia tak mendapat jawaban apa-apa, Hujan hanya mengerang terus di wajah malam yang semakin pekat. Ia pun memutuskan untuk menyalakan motor dan bergegas menuju rumah. Seluruh tubuhnya basah ketika ia sampai didepan pintu persis seperti keadaan batinnya. Dengan kepala tertunduk dan tangan yang hendak membuka pintu lelaki itu menyadari apa yang ia pikirkan sebenarnya hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang ia sendiri pun tidak bisa memastikan, kemudian Pintu pun dibukanya.

Setelah mengeringkan badan dan menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawanya ke Jogja, Lelaki itu langsung merebahkan tubuh untuk istirahat agar cukup tenaga dan bugar saat bertemu Putri besok.
Jauh dilubuk hatinya yang terbawa lelap, Lelaki itu berharap ketika sampai distasiun pagi nanti, Ia tak bertemu dengan kesedihannya yang pulang lebih awal dan turun dari kereta seperti persiapan untuk alenia yang telah dikira-kirakan.

Ia hanya mampu menafikan  semuanya dengan berdo’a, mudah-mudahan kemungkinan yang saat ini dan bakal menjadi momok dalam terusan hidupnya adalah kedustaan yang diciptakan oleh kekawatiran Saja. Sebelum setiap pintu dibukanya, sebenarnya Ia sendiri telah tamat menjawab dan berhasil mengahadapinya “Aku takkan kalah oleh sekedar ‘Entah'” begitu pungkasnya.

Sambil mengucap basmalah matahari menyaksikan pintu itu pun dibukanya.”Entah!?” bagaimana kelanjutannya itu entah, yang pasti seperti katanya “Ia takkan kalah!” dan yang terpenting hari ini akan menjadi wadah pertemuan antara Ia dan putri semata wayangnya, yang tentu saja terpenuhinya kerinduaan adalah bagian kesenangan cita rasa yang tiada taranya.

05052016

PUISI KAMAR

image

Muntah pena meragakan  suara
Material negara maju
Makna akan menasehati anda
Maka jangan menjadi penyair mandul

Gadis dirayu saudara mindo
Gadis pingitan jokowi do do
Banyak manusia pura-pura tuna
Gadis itu menjerit kepingin Shiratal mustaqim dibuka

(2015)

PENCAHAYAAN

image

Potret:

Mentari gegabah terhadap cahaya
Rembulan tersesat dalam cahaya
dalam keliru rembulan mengambang
Sambil kaprah menjalani hari
Sambil mabuk dirayu Birahi

Mengapa bintang-bintang terkagum?

(2015)